Musik

Musik Dan Ibadah

 

            Apa hubungan musik dengan ibadah Kristen? Peran apakah yang musik punya dalam ibadah? Barangkali ada yang bertanya, “Apakah harus ada musik di dalam ibadah jemaat?”

Secara singkat saya akan menjawab, “Ya, harus.” Sudah jelas bahwa musik adalah hal yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Sebagai pemberi, Allah juga menuntut agar kita memakai karunia-Nya di dalam kita beribadah kepada-Nya. II Taw. 29:25 menyatakan bagaimana Tuhan memerintahkan agar ditetapkan orang-orang Lewi sebagai pelayan di bidang musik untuk memuji Tuhan di Bait Allah. Dari sini kita bisa melihat bahwa musik bukan sesuatu yang opsional (Opsional yakni, kita dapat memilihnya atau tidak), melainkan musik merupakan salah satu unsur dalam kita beribadah kepada Allah. Alasannya, karena Tuhanlah yang telah menetapkannya begitu.

Sekali lagi, musik tidaklah opsional; Allah berencana agar kita memakainya untuk beribadah kepada-Nya. Mari kita kembali ke pertanyaan semula, “Apa hubungan musik dengan ibadah Kristen?” Peran apakah yang musik punya dalam ibadah? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus memikirkan terlebih dahulu tentang arti “ibadah”.

Kata “Ibadah” dalam bahasa Inggris ialah “Worship”, yang mula-mula mengandung arti “Worth-ship”, yakni, menaruh penghormatan atau penghargaan terhadap seseorang. Kamus (bahasa Inggris) mendefinisikan “ibadah” sebagai “kesetiaan kepada Allah atau Dewa.” kedua definisi ini mendeskripsikan sebagian dari arti “ibadah”.

Menurut Tim Fisher, ibadah itu adalah “Apa yang kita lakukan waktu kita bertemu dengan Allah, dengan Firman-Nya, dan dengan umat-Nya, sehingga akal budi kita diperlengkapi, kehendak kita diserahkan, dan keinginan kita dibangkitkan untuk melakukan kehendak Allah lebih dari pada biasa.”

Alkitab mendefinisikan ibadah sebagai berikut; “Karena itu saudara-saudaraku, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rom. 12:1-2).

Definisi di atas mengekspresikan satu kebenaran tentang ibadah. Ibadah bukan suatu suasana atau emosi, meskipun kedua hal ini ada di dalam ibadah. Akan tetapi ibadah terdiri atas 2 hal besar; Pengetahuan dan Respon. Maksudnya, kita dapat belajar tentang Allah, tapi selama kita tidak menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari, kita belum sungguh-sungguh beribadah kepada Allah.

Di dalam kebaktian, sidang jemaat dibawa berhadapan dengan Allah melalui Firman-Nya. Kemudian kita memberi respon terhadap wahyu itu dalam perhatian kita, persembahan kita, respon kita waktu invitation (undangan), dan di dalam nyanyian-nyanyian kita. Dan di hari-hari selanjutnya, kita meneruskan ibadah kita kepada Allah dengan hidup sesuai dengan Firman-Nya yang telah kita pelajari pada hari Minggu (pertemuan jemaat).

Ketika kita berkumpul untuk bersekutu, adanya tujuan-tujuan di mana musik dapat,

bahkan harus ikut berperan untuk mencapainya. Tiga sasaran penting dalam beribadah adalah: Allah dimuliakan, menjangkau jiwa yang tersesat dan pemuridan orang percaya.

  • Memuliakan Allah

Maz. 50:23a berbunyi demikian, “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku;…..” (Lihat juga Maz. 100:2; 147:1). Setiap orang yang telah diselamatkan dari dosa dan maut, dan oleh anugerah Tuhan sehingga hidup mereka telah diubah, mestinya mempunyai banyak alasan untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Seperti Daud, kita harusnya berani berkata; “Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” (Maz. 146:2).

Kemuliaan Allah adalah hal yang harus kita utamakan di dalam kebaktian-kebaktian kita. Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu adalah melalui nyanyian-nyanyian kita. Melalui nyanyian, kita dapat memuji Allah serta mengucapkan terima kasih kepada-Nya atas segala sesuatu yang telah diperbuat-Nya di dalam hidup kita. Seringkali ada orang-orang dalam sidang jemaat yang mau memuji Allah tetapi mereka tidak dapat menemukan kata-kata yang patut.  Melalui kidung puji-pujian dan lagu-lagu rohani, jemaat bisa mengekspresikan isi hati mereka kepada Tuhan dalam bahasa yang tadinya susah bagi mereka untuk menciptakannya sendiri.

  • Penginjilan untuk menjangkau jiwa yang tersesat

Di sini perlu kita tanggapi beberapa fakta terlebih dahulu:

Pertama, penginjilan bukan pengganti untuk ibadah. Kadang-kadang ada orang Kristen yang kehidupan rohaninya sudah dingin. Dia membela kondisi dirinya dengan mencoba memikul beban Kristus, yaitu beban penginjilan, tetapi tidak mau memikul bebannya sendiri, yaitu beban ketaatan. Sebagai contoh, “Saya sudah berusaha mengajak teman-teman ke gereja. Masakan aku bukan orang Kristen yang rohani?” ingatlah, kalau kita beribadah dengan sungguh-sungguh, hasilnya ialah kita menjadi saksi bagi Allah kepada orang-orang lain yang belum mengenal-Nya.

Kedua, metode yang diterapkan Allah untuk bersaksi ialah melalui “kebodohan” pemberitaan Injil (1 Kor. 1:21). Di dalam Alkitab tidak pernah musik dipakai untuk menjangkau orang-orang yang tersesat (walau banyak gereja sekarang ini melakukannya). Di dalam Alkitab kita disuruh, “bermazmur bagi Tuhan (Maz. 9:12), “Mengucap syukur di dalam hati kita” (Kol. 3:16), “dalam jemaah orang-orang saleh” (Maz. 149:1), “di tempat tidur” (Maz. 63:7), bahkan “di antara bangsa-bangsa kafir” (Maz. 108:4; 126:2). tetapi bukan kepada mereka (bangsa-bangsa kafir). Kita disuruh menyanyi kepada Tuhan. Ingatlah: maksud/tujuan pelayanan musik di gereja bukanlah untuk menginjili orang-orang sesat, melainkan untuk memuliakan Allah.

Lalu apa hubungannya musik dengan penginjilan? Secara sederhana, selama kita bermazmur kepada Tuhan dengan kemuliaan-Nya sebagai sasaran utama, orang sesat akan menyadari dirinya sebagai orang berdosa di hadapan Allah yang kudus. Program musik yang mengagungkan Kristus akan mempunyai dampak bagi seorang sesat yang menyaksikan atau mendengarkannya. Dan dampaknya datang dari kemuliaan Kristus, bukan dari musik yang menarik!

 

  • Pemuridan / Pembangunan orang—orang kudus

Kol. 3:16 menyatakan bahwa kita harus mengajar dan menegur seorang akan yang lain dalam/dengan perantaraan mazmur {Psalms (Ing); Psalmois (Yun)}, puji-pujian {Hymns (Ing); Humnois (Yun)} dan nyanyian rohani {Spiritual songs (Ing); Hodais pneumatikais (Yun)}. Lihat juga Ul. 31:19-22. Sesungguhnya musik merupakan cara yang sangat efektif untuk pengajaran. Dengan menyanyikan kidung puji-pujian dan nyanyian-nyanyian rohani yang lain, anggota-anggota jemaat belajar mengenai doktrin dan kebenaran-kebenaran rohani lainnya. Mis; lihat buku Nyanyian pujian (NP) no. 1 “Suci, Suci, Suci.”; no. 158 “Tiap hari tiap jam”. Akan tetapi ingatlah akan dua hal penting: 1) Nyanyian-nyanyian bukanlah pengganti untuk pengajaran atau pemberitaan Injil (Preaching). Tidak benar kalau seorang pengkhotbah memakai nyanyian-nyanyian untuk menyelimuti atau memboboti khotbahnya yang sebenarnya kurang persiapan! 2) Syair nyanyian-nyanyian yang kita pakai harus alkitabiah atau sesuai dengan ajaran Alkitab. Sia-sia kalau jemaat kita menyanyikan sebuah lagu yang indah tetapi inti syair tidak mengandung banyak arti, atau terlebih lagi mengajarkan doktrin yang berlainan dengan Alkitab. Mis: NP no. 335; no. 95.

Pelayanan musik gereja dapat juga dipakai untuk membangun talenta musik anggota-anggota jemaat yang berbakat dalam bidang itu serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk memakai karunia yang mereka miliki di dalam pelayanan bagi Tuhan. Yang lebih dari semuanya itu ialah, musik memberikan kesempatan bagi sidang jemaat untuk mengekspresikan sukacita atas apa yang telah Allah lakukan bagi mereka.

Petunjuk untuk bernyanyi

  1. Pelajari lagu-lagu yang sudah anda dapatkan sebelum anda mempelajari lagu lainnya. Kemudian pelajari lagu lain sebanyak-banyaknya.
  2. Nyanyikan lagu yang telah anda dapatkan secara tepat sebagaimana tertulis tanpa sedikit pun merubahnya. Jika anda telah pernah menyanyikannya dengan berbeda, rubahlah secepatnya.
  3. Bernyanyilah semuanya. Sambil anda bernyanyi, sedapat-dapatnya perhatikan sesering mungkin anggota jemaat lainnya dan ikutilah mereka. Jangan biarkan kelemahan  atau kekuatiran sekecil apa pun mengganggu anda. Jika hal ini adalah salib bagi anda, pikullah itu, anda akan menemukan berkat melaluinya.
  4. Bernyanyilah dengan penuh semangat dan dengan suatu keberanian yang benar. Waspadalah supaya anda tidak bernyanyi seperti orang yang setengah mati (half dead), atau setengah tidur (half sleep); tetapi angkatlah suara anda dengan kekuatan (strength). Sekarang jangan lagi takut akan suara anda atau malu itu didengar, kecuali anda menyanyikan nyanyian setan.
  5. Bernyanyilah dengan pantas dan sopan. Jangan berteriak sehingga terlalu menonjol kedengaran, atau berbeda dengan jemaat yang lainnya, dengan demikian anda akan merusak keharmonisan. Akan tetapi berjuanglah menyatakan suara anda bersama-sama, sehingga menghasilkan satu suara melodi yang jelas.
  6. Bernyanyilah dengan waktu/tempo yang tepat. Bagaimana pun temponya, berpeganglah dengan itu. Jangan berlari mendahului atau malah tertinggal di belakang, tetapi ikutilah pemimpin pujian setepat mungkin. Dan hati-hatilah bernyanyi terlalu lambat. Cara bernyanyi yang malas seperti ini biasanya mempengaruhi semua orang menjadi malas juga. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan tempo di setiap lagu yang kita nyanyikan.
  7. Di atas semuanya itu, bernyanyilah dengan roh (spiritually). Pusatkan diri anda kepada Allah dalam mernyanyikan setiap kata. Milikilah motivasi untuk memuaskan hati-Nya lebih dari pada diri sendiri atau ciptaan Allah lainnya.

Untuk mencapai hal tersebut, pusatkan diri anda terus-menerus dengan apa yang anda sedang nyanyikan, dan perhatikanlah bahwa hati anda tidak terbawa hanyut oleh suara nyanyian. Akan tetapi persembahkanlah pujian tersebut terus-menerus kepada Allah. Dengan demikian nyanyian tersebut akan berkenan kepada Allah, dan DIA akan memberimu upah bila DIA kelak datang kembali!

 

Variasi nyanyian dalam acara kebaktian

1)      Perubahan irama yang sederhana dapat menolong jemaat merasakan arti dari syair lagu. Mis: dengan memperlambat satu frase.

2)      Perubahan dinamik (dari keras ke lembut atau sebaliknya) juga dapat menambah minat pada waktu jemaat menyanyikan lagu rohani biasa.

3)      Rencanakanlah nyanyian tunggal, duet, trio, kuartet pada satu bait dari sebuah lagu, supaya memberi kesempatan khusus kepada orang-orang yang dapat menyanyi dengan baik. Cara ini juga akan memberikan variasi dalam kebaktian.

4)      Jemaat dapat diatur dalam beberapa kelompok dan meminta mereka untuk menyanyikan sebuah lagu secara berselang-seling. NP no. 32 (Puji nama-Nya) salah satu contoh yang baik untuk dinyanyikan secara berselang-seling. Pada refrennya juga bisa diminta agar sebagian menyanyikan “Puji nama-Nya, puji nama-Nya” dan yang lain menyanyikan kalimat sambutannya. Pada lagu-lagu lain, frase-frase dengan kata-kata yang diulangi dapat juga dibagikan dengan cara yang sama. Mis; NP no. 221 (Nyamanlah jiwaku).

5)      Nyanyikanlah tanpa iringan bait yang kedua atau yang ketiga dari sebuah lagu. Lalu iringan ditambahkan lagi pada bait yang berikutnya.

6)      Variasi dapat juga dengan menentukan terlebih dahulu kelompok yang berbeda untuk menyanyikan masing-masing bait dari satu lagu. Mis; Antara kelompok pria dan wanita, antara paduan suara dan jemaat, antara kaum muda dan dewasa, antara sebelah kiri dan sebelah kanan ruangan.

7)      Pimpinlah jemaat untuk membacakan bersama-sama bait kedua dan ketiga dari sebuah lagu, lalu nyanyikan seperti biasa bait yang selanjutnya.

8)      Nyanyikanlah kata-kata dari sebuah lagu dengan melodi yang berbeda daripada melodi yang biasa. Mis; NP no 65 (Mari tuturkan kembali) dapat juga dinyanyikan dengan melodi NP no. 302 (Persembahan hati).

9)      Rencanakanlah tema kebaktian seperti “Acara Natal bulan Juli” (atau Juni), dengan menyanyikan beberapa lagu bertema Natal. Sayang sekali jika jemaat hanya sempat menyanyikan lagu-lagu bertema Natal hanya pada bulan Desember saja.

Created by: Ev. Tumbur LR

 

  1. 1.       CATATAN UMUM

A          Tiga Unsur Musik

a. Irama. Irama adalah tekanan yang datang berulang-ulang secara teratur.

b. Melodi. Melodi adalah gabungan dari nada-nada yang dibunyikan secara bergantian menurut peraturan-peraturan irama. Melodi merupakan inti sari dari semua musik.

c. Harmoni. Harmoni adalah gabungan dari dua nada atau lebih yang menyebabkan terdengarnya suara yang selaras ketika dibunyikan secara bersama-sama.

B         Nada diperlihatkan dengan not. Ada tiga cara untuk melihat not:

a. Dengan huruf     ==>   A B C D E F G A

b. Dengan angka    ==>   1  2  3  4 5  6 7  1

c. Dengan gambar  ==>   Not balok

C         Ciri-ciri nada. Suatu nada adalah getaran-getaran yang terdiri atas getaran-getaran                yang teratur atau tiap-tiap bunyi yang mempunyai tinggi nada. Ada empat hal                            penting yang merupakan ciri-ciri nada:

a. Panjang nada.   ==>  Berkenaan dengan panjangnya.

b. Luas nada.        ==>  Berkenaan dengan nyaring atau lemahnya.

c. Tinggi nada       ==>  Berkenaan dengan tinggi dan rendahnya.

d. Sifat nada         ==>   Berkenaan dengan teguh, gembira, suram, sedih, dll.

  1. 2.       PARANADA; BALOK NOT

A          Bentuknya Paranada

a. Terdiri atas lima garis lurus yang berjajar mendatar secara teratur dan horizontal.

b. Ruang di antara garis-garis paranada digunakan juga untuk menuliskan not.

c. Ruang di abtara garis-garis itu dinamakan spasi.

d. Not-not dituliskan pada garis-garis mau pun pada spasi.

e. Setiap paranada biasanya terbagi oleh garis-garis tegak lurus yang kita namakan garis birama, menjadi ruas-ruas yang lebih kecil. Ruas semacam ini kita namakan ruas birama atau singkatnya dengan birama saja. Berbeda dengan not angka, dalam notasi balok, setiap baris harus berakhir dengan garis birama.

f. Jika telah seluruhnya penulisan lagu, harus ditutup dengan garis penutup berupa garis birama rangkap, sebaiknya garis yang paling luar lebih tebal dari garis yang di sebelah dalam.

_________________________________________________________

_________________________________________________________

_________________________________________________________

_________________________________________________________

_________________________________________________________

Ruas birama                                    Garis birama                     Baris                                                              atau                                                                                   penutup

Birama                                                         Birama

  1. 3.     NILAI NOT DAN TANDA DIAM

A. Nilai not

a. Tinggi rendah not-not balok kita ketahui jika sudah diletakkan pada paranada. Jadi tinggi rendah nada yang dilambangkannya dapat kita lihat dari tinggi rendah not pada paranada.

b. Pada notasi angka, tinggi rendah diperlihatkan dengan angka. Angka pertama adalah “do” dan nada akan bertambah tinggi dengan angka 2, 3, dst.

c. Melodi dirupakan waktu beberapa not tunggal dirangkaikan dengan tinggi rendah yang berbeda.

d. Selain tinggi rendah, rangkaian sebuah melodi dapat panjang dan juga pendek nadanya.

e. Dalam notasi balok, panjang pendek nada dibedakan oleh bentuk atau wujud not-notnya. Tiap-tiap bentuk not mempunyai nilai yang sudah tertentu.

f. Nilai not ini dihitung dengan satuan hitungan yang disebut ketuk.

g. Ketuk adalah satuan hitungan untuk menilai not. Sebagai satuan hitungan, ketuk sifatnya relatif. Artinya, tiap-tiap orang mempunyai cara mengetuknya sendiri. Tetapi perlu diperhatikan, gerak ketuk haruslah konstan (tetap) seperti detik jam (arloji). Sebagai latihan permulaan, kita dapat mengetuk meja dengan jari-jari kita atau dengan pensil. Tetapi selanjutnya disarankan mengetuk dalam hati.

B. Latihan

Tanda-tanda ketuk (o) di bawah garis, supaya diketuk dengan peragaan (jari, pensil, dsb). Tanda-tanda ketuk tanpa garis, supaya diketuk dalam hati.

________________________

a. o o o o o o o o o o o o o o o o

_____             _____          _

b. o o o o o o o o o o o o o o o o

___           ____         ____ _

c. o o o o o o o o o o o o o o o o

__       __        __       __     _

d. o o o o o o o o o o o o o o o o

_         _         _         _      _

e. o o o o o o o o o o o o o o o o

Dengan latihan itu, kita lihat bahwa sebuah nada dapat disuarakan dengan berbagai nilai. Ada yang bernilai satu ketuk, dua ketuk, tiga  ketuk dan empat ketuk.

            TANDA-TANDA MULA KRES, MOL DAN NATUREL

A. Tanda mula kres

  1. Sering kita dengar orang menyanyikan nada-nada musik dengan pengucapan:

do          re      mi     fa     sol     la     si

itu disebut sistem doremisasi atau solmisasi.

  1. Pengucapan itu dapat dituliskan dengan notasi angka sebagai berikut:

1       2      3      4       5      6       7

do     re    mi     fa     sol     la      si

  1. Notasi balok juga dapat dinyanyikan dengan solmisasi
  1. Nada pertama dari tangganada di atas adalah nada “do” atau not angka “1”
  1. Nada atau not tersebut selanjutnya kita sebut nada dasar atau nada mula.
  1. Jelasnya, nada dasar adalah nada yang dipakai sebagai dasar dari sebuah tangganada.
  1. Jika kita menyanyikan sebuah tangganada, biasanya kita mulai dengan nada dasar tersebut dan berakhir dengan nada dasar itu juga, tetapi dengan suara yang lebih tinggi.
  1. Pada penulisan nyanyian, khususnya yang memakai notasi angka, sering ita jumpai D=do atau D=1 atau 1=D. Maksudnya, nyanyian tersebut supaya dinyanyikan dengan nada “D” sebagai “do” atau dengan kata lain memakai nada dasar “D”.
  1. Di Indonesia dipakai solmisasi dengan “do” yang berpindah-pindah. Artinya, penunjukan nada “do” dapat diterapkan pada tiap nada, sehingga ada D=do, E=do, dst.
  1. Untuk mengetahui nada dasar notasi balok, kita tidak perlu mencari petunjuk D=do seperti yang kita lihat pada notasi angka.
  1. Kita dapat mengetahui nada dasarnya hanya dengan melihat tanda mula.
  1. Tanda mula itu terdapat pada setiap awal paranada, sehabis kunci. Salah satunya adalah tanda mula kres yang berupa “#”

a. Nada dasar ditentukan oleh jumlah kres. Jika jumlah kres nya berbeda, berbeda juga nada dasarnya.

b. Susunan dan letak kres dalam paranada sudah tertentu. Jadi kita harus mengikuti cara yang berlaku. Jadi kesimpulannya, tiap kres dari tanda mula terletak pada garis atau spasi yang sudah tetap/pasti.

c. Ikhtisar di atas dapat diterangkan sebagai berikut:

c.1. Tanda mula kres satu, bernada dasar G

c.2. Tanda mula kres dua, bernada dasar D

c.3. Tanda mula kres tiga bernada dasar A

c.4. Tanda mula kres empat bernada dasar E

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

G                                                       D

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

A                                                       E

  1. Empat buah nada dasar itu tersebut dapat dihafal. Mengenai letak kres pada paranada juga dapat dihapalkan dengan melatihnya berulang-ulang.

B. Tanda mula Mol

  1. Di sini juga ada empat buah nada dasar. Berikut nada-nadanya:

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

F                                                       B

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

_____________                                     ______________

E                                                       A

  1. Tanda mula Naturel
  1. Jika pada penulisan lagu tidak tertulis tanda mulanya, berarti lagu tersebut memakai tanda mula naturel.
  1. Pada tanda mula naturel, nada dasarnya adalah nada C, atau pada notasi angka ditulis C=do atau 1=C.
  1. Dengan demikian dalam notasi balok kita tidak boleh lupa menuliskan tanda mula. Sebab tanpa tanda mula, berarti C=do.

_____________

_____________

_____________

_____________

_____________

C

TANDA BIRAMA DAN AKSEN

A. Tanda Birama

  1. Pengertian ruas birama dan garis birama telah kita pelajari. Ruas-ruas birama selalu dibatasi oleh garis-garis birama, yang tegak lurus setinggi paranada.
  2. Sekarang perhatikanlah ruas-ruas birama pada lagu Nyanyian Pujian (NP) #42. Jumlahkan nilai not dari tiap-tiap ruas. Kita lihat jumlah tersebut selalu sama, meskipun nilai not-notnya mungkin berbeda.
  3. Ruas pertama sebuah lagu seringkali tidak lengkap seperti kita lihat pada lagu NP #42 tadi, hanay nampak sebagian saja.

a. Ini berarti bagian sisanya terdapat pada ruas terakhir dari lagu itu.

b. Jadi, jumlah nilai not ruas pertama dan terakhir, sama dengan jumlah di ruas-ruas yang lainnya.

PALUNGAN DI KANDANG

                        3 / 4        F=Do ( 1 Mol )

5   l   5   . 4   3      3   2   1       1    7    6       5   .   5       5   . 6   5   l

3   l   3   . 2   1      5   4   3       6    5    4       3   .   5      4    . 4   4   l

  1.        Pa  –  lung -an  di   kan-dang tem  – pat la – hir – Nya;     Ba  –    yi   Ku – dus
  2.       Sua –   ra   lem-bu   dom-ba   ri  –  uh meng-gang -gu,      Na  –  mun  Ba – yi
  3.        Ku     pin – ta,  ya   Ye -sus, pim –  pin   hi – dup –  ku;     lim –  pah   – I – lah

5    2    7    l    6    5    1   l    3   .   5    l    5   . 4   3   l    3   2    1   l

4    4    4    l    4    3    3   l   5    .   3    l    3   . 2   1   l    5   4    3   l

ti -dur le   –   lap  ter -le  –  na.      Di       ma – am yang    su – nyi  bin-

Ku – dus te   –    nang ber -a   –   du.     Ku   –    cin – ta    pa   – da – Mu, ya

       a –  ku   de   –   ngan cin – ta  –   Mu;    Tu   –   run -kan ber –  kat-Mu  ba-

1    7    6     l    5   .    5     l    4   . 3    2    l   3    2   1   l   2   6    7  l   1  .   ll

6   5     4     l    3   .    5     l    2   . 1    7    l   1     5   3  l   6   4    4  l   3  .   ll

tang ber – se   –     ri;      Ter  –    pan -car  si   –    nar-nya  di    kan-dang se – pi.

Tu – han  Ye   –    sus;      Ting  –   gal -lah  de   –    kat -ku dan    ja – ga -lah   t’rus.

    gi  tiap     a    –   nak;      An    –  tar- kan – lah       ka -mi   ke     sur -ga  ke –  lak.

Syair: Away in a Manger, 1885, 1892. Luk. 2:4-7.

B. TANDA DIAM / TANDA BERHENTI

1. Sesuai dengan namanya, tanda diam tidak melambangkan nada, tetapi melambangkan lamanya diam.

2. Pada notasi angka, tanda diam ini berupa angka nol ( 0 ). tiga angka nol berturut-turut berarti diam selama tiga ketuk atau tiga hitungan.

3. Pada notasi balok, tanda diamnya berupa gambar. Bentuknya berbeda-beda menurut perbedaan lamanya diam. Ada tanda diam empat ketuk, tanda diam dua ketuk, dsb.

4. Dalam notasi balok, jenis tanda diam sebanding dengan jenis not.

Notasi angka

(Tanda diam)

Nilai tanda

diam dan not

Notasi balok

(tanda diam)

Notasi balok (not)

5. Hubungan tanda diam dan irama

a. Telah diterangkan sebelumnya bahwa irama adalah gerak musik yang berjalan teratur.

b. Irama selalu mengikuti jalan melodi. Bahkan di waktu melodi diam, irama tetap berjalan selama lagu belum selesai. Oleh karena itu, kemampuan membaca tanda diam sama pentingnya dengan membaca not.

c. Dalam praktek bunyinya dalam bermain musik, menghitung lamanya diam ternyata tidaklah mudah. Lebih mudah jika ketukan-ketukan berisi not.

d. Untuk menguasai tanda diam, latihan mengetuk di pertemuan yang lalu perlu dipelajari lagi. Hanya bedanya sekarang, mari kita pakai not dan tanda diam sewajarnya. Mari kita ketuk not-not dan tanda-tanda diam di bawah ini secara peragaan.

e. Cara membaca not semacam itu selanjutnya kita sebut membaca ritmis, yaitu membaca tanpa melihat tinggi rendahnya nada.

IV. NAMA NOT, KUNCI ‘G’

A. Nama not.

1. Garis-garis dan ruang-ruang not balok mempunyai nama huruf.

2. Ketujuh huruf yang pertama di dalam abjad dipakai sebagai nama-nama huruf ini, yaitu; A, B, C, D, E, F, G.

3. Nama-nama huruf ini harus dihafalkan oleh tiap-tiap orang yang mempelajari musik. Di sebelah atas not G dan di sebelah bawa not A. tujuh huruf pokok tersebut diulangi.

4. Dalam notasi angka, angka-angka yang dipakai menunjukkan tingkat nada.

5. Dalam notasi balok, yang menunjukkan tingkat nada adalah paranada. Not yang tertulis dalam paranada tertulis di atas, berarti lebih tinggi tingkatnya dari not yang di bawah.

6. Jadi, naik turunnya gerak nada terlihat pada paranada dengan naik turunnya gerak not-not pada paranada.

Contoh:

7. Demikianlah garis-garis dan spasi-spasi paranada menentukan nama pokok not. Not yang terletak pada garis ”G’ akan bernama not ‘G’. not yang berada pada spasi ‘A’ akan ebrnama not ‘A’.

  1. NAMA NOT, KUNCI ‘G’

A. Nama not.

1. Garis-garis dan ruang-ruang not balok mempunyai nama huruf.

2. Ketujuh huruf yang pertama di dalam abjad dipakai sebagai nama-nama huruf ini, yaitu; A, B, C, D, E, F, G.

3. Nama-nama huruf ini harus dihafalkan oleh tiap-tiap orang yang mempelajari musik. Di sebelah atas not G dan di sebelah bawa not A. tujuh huruf pokok tersebut diulangi.

4. Dalam notasi angka, angka-angka yang dipakai menunjukkan tingkat nada.

5. Dalam notasi balok, yang menunjukkan tingkat nada adalah paranada. Not yang tertulis dalam paranada tertulis di atas, berarti lebih tinggi tingkatnya dari not yang di bawah.

6. Jadi, naik turunnya gerak nada terlihat pada paranada dengan naik turunnya gerak not-not pada paranada.

Contoh:

7. Demikianlah garis-garis dan spasi-spasi paranada menentukan nama pokok not. Not yang terletak pada garis ”G’ akan bernama not ‘G’. not yang berada pada spasi ‘A’ akan ebrnama not ‘A’.                                   V. Kunci F (Bhs. Inggris: Bass Cleft)

1. Untuk menuliskan suara manusia misalnya, kunci ‘G’ hanya dipakai untuk menuliskan suara wanita dan anak-anak. Suara pria sebenarnya terletak satu oktaf lebih rendah dibandingkan suara wanita. Juga nada alat-alat musik, banyak yang harus ditulis jauh di bawah kunci ‘G’.

2. Untuk menambah luas wilayah penulisan, kita dapat memakai kunci ‘F’.

a. Wilayah nada dari kunci ‘F’ lebih rendah dari pada wilayah nada kunci ‘G’.

b. Bentuknya kunci ‘F’ ikut bentuk F dalam bahasa Gotik yang kuno seperti kita lihat pada contoh yang berikut:

  • Ada 2 macam bentuk kunci ‘F’.

3. Kunci ‘F’ menunjukkan kedudukan not ‘F’, yaitu pada garis ke empat paranada.

4. Dengan diketahuinya not ini, maka terbukalah jalan untuk mengetahui not-not lain.

Contoh:

5. Tulislah nama huruf di bawah setiap not yang berikut:

6. Jika kunci ‘G’ dinamakan kunci biola, maka kunci ‘F’ dinamakan kunci bas, sesuai dengan peranannya untuk menuliskan nada-nada rendah.

VI. V. Kunci F (Bhs. Inggris: Bass Cleft)

1. Untuk menuliskan suara manusia misalnya, kunci ‘G’ hanya dipakai untuk menuliskan suara wanita dan anak-anak. Suara pria sebenarnya terletak satu oktaf lebih rendah dibandingkan suara wanita. Juga nada alat-alat musik, banyak yang harus ditulis jauh di bawah kunci ‘G’.

2. Untuk menambah luas wilayah penulisan, kita dapat memakai kunci ‘F’.

a. Wilayah nada dari kunci ‘F’ lebih rendah dari pada wilayah nada kunci ‘G’.

b. Bentuknya kunci ‘F’ ikut bentuk F dalam bahasa Gotik yang kuno seperti kita lihat pada contoh yang berikut:

  • Ada 2 macam bentuk kunci ‘F’.

3. Kunci ‘F’ menunjukkan kedudukan not ‘F’, yaitu pada garis ke empat paranada.

4. Dengan diketahuinya not ini, maka terbukalah jalan untuk mengetahui not-not lain.

Contoh:

5. Tulislah nama huruf di bawah setiap not yang berikut:

6. Jika kunci ‘G’ dinamakan kunci biola, maka kunci ‘F’ dinamakan kunci bas, sesuai dengan peranannya untuk menuliskan nada-nada rendah.

PEMIMPIN NYANYI DI GEREJA (DIRIGEN)

A. Syarat kepribadian

  1. Seorang yang sudah mengalami kelahiran baru dan terbeban untuk membagikan Injil Kristus kepada orang lain, dan mengabdikan bakat musiknya kepada Tuhan.
  2. Seorang Kristen yang baik, saleh dan jujur dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi anggota gereja setempat di mana ia melayani.
  3. Memiliki kepribadian yang menarik, mempunyai inisiatif dan sikap gembira.
  4. Mengerti tugasnya dengan baik, memiliki kemampuan berorganisasi, dan rajin bekerja.
  5. Menyukai tugasnya dan menghargai serta mengasihi orang-orang yang turut melayani bersama-sama dengannya.
  6. Mengakui gembala sebagai pemimpin gereja dan haknya untuk membuat keputusan-keputusan.
  7. Rela bekerjasama dan setia kepada seluruh rencana kerja gereja.
  8. Sudah dewasa secara rohani dan emosi.
  9. Rela belajar dan menerima nasihat.
  10. Memiliki pengetahuan musik yang baik.

B. Syarat pengetahuan.

  1. Harus mempunyai rasa irama.
  • Seorang pemimpin harus dapat merasakan tekanan pukulan yang teratur dalam musik yang sedang dipimpinnya.
  • Ia harus bisa menghitung pukulan irama yang sederhana.
  • Ia harus dapat merasakan tekanan yang kuat dan tekanan yang lemah.
  1. Perlunya pengertian tentang tinggi nada.
  • Seorang pemimpin harus dapat mendengar dengan teliti.
  • Ia harus dapat menangkap kunci nada yang dibunyikan pada piano atau alat musik lainnya.
  1. Pengetahuan dasar musik tertulis merupakan syarat utama.
  2. Pengetahuan dasar cara memimpin harus dipahami.
  • Pemimpin harus dapat menggerakkan tangan serta lengannya untuk menyatakan pukulan irama lagu kepada para penyanyi, dan dia harus melakukannya dengan memperagakan bentuk gerakan tertentu agar maksudnya dipahami oleh orang-orang yang dipimpinnya.

PEMIMPIN NYANYI DI GEREJA (DIRIGEN)

A. Syarat kepribadian

  1. Seorang yang sudah mengalami kelahiran baru dan terbeban untuk membagikan Injil Kristus kepada orang lain, dan mengabdikan bakat musiknya kepada Tuhan.
  2. Seorang Kristen yang baik, saleh dan jujur dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi anggota gereja setempat di mana ia melayani.
  3. Memiliki kepribadian yang menarik, mempunyai inisiatif dan sikap gembira.
  4. Mengerti tugasnya dengan baik, memiliki kemampuan berorganisasi, dan rajin bekerja.
  5. Menyukai tugasnya dan menghargai serta mengasihi orang-orang yang turut melayani bersama-sama dengannya.
  6. Mengakui gembala sebagai pemimpin gereja dan haknya untuk membuat keputusan-keputusan.
  7. Rela bekerjasama dan setia kepada seluruh rencana kerja gereja.
  8. Sudah dewasa secara rohani dan emosi.
  9. Rela belajar dan menerima nasihat.

20. Memiliki pengetahuan musik yang baik.

B. Syarat pengetahuan.

  1. Harus mempunyai rasa irama.
  • Seorang pemimpin harus dapat merasakan tekanan pukulan yang teratur dalam musik yang sedang dipimpinnya.
  • Ia harus bisa menghitung pukulan irama yang sederhana.
  • Ia harus dapat merasakan tekanan yang kuat dan tekanan yang lemah.
  1. Perlunya pengertian tentang tinggi nada.
  • Seorang pemimpin harus dapat mendengar dengan teliti.
  • Ia harus dapat menangkap kunci nada yang dibunyikan pada piano atau alat musik lainnya.
  1. Pengetahuan dasar musik tertulis merupakan syarat utama.
  2. Pengetahuan dasar cara memimpin harus dipahami.
  • Pemimpin harus dapat menggerakkan tangan serta lengannya untuk menyatakan pukulan irama lagu kepada para penyanyi, dan dia harus melakukannya dengan memperagakan bentuk gerakan tertentu agar maksudnya dipahami oleh orang-orang yang dipimpinnya.
  1. Peraturan dasar dalam memimpin.

1. Pada umumnya, tangan yang utama untuk memimpin nyanyi adalah tangan kanan. (seorang kidal boleh saja menggunakan tangan kirinya, kalau demikian maka bentuk gerakan tentu harus dibalik).

2. Keadaan tangan yang memimpin:

a. Lengan hendaknya dijulurkan dari bahu ke depan dalam keadaan leluasa, tangan diluruskan seperti pada waktu berjabat tangan.

b. Pergelangan tangan hendaknya dalam keadaan santai/kendur (relaxed).

3. Batas daerah gerakan tangan:

a. Batas gerakan ke atas sejajar dengan mata dan batas ke bawah sejajar               dengan siku. Batas gerakan ke kiri adalah sejajar dengan sisi badan          pemimpin dan batas gerakan ke kanan adalah kira-kira 30 cm ke kanan             mulai dari hidung.

b. Daerah gerakan ini dapat diperluas atau dipersempit seperlunya, sesuai dengan:

– Besar kecilnya jumlah orang yang dipimpin

– Untuk mengubah volume suara nyanyian. Biasanya gerakan tangan diperbesar untuk menunjukkan bahwa suara harus diperbesar, kalau gerakan diperkecil, volume suara harus diperkecil pula. Atau ketika menunjukkan tanda permata.

4. Sikap badan.

a. Berdiri tegak dengan keseimbangan berat badan bertumpu pada kedua               kaki.

b. Badan hendaknya merasa seimbang dan bebas

c. Kedua kaki agak renggang

d. Lengan hendaknya dapat bergerak dengan leluasa

e. kepala tegak tetapi tidak kaku

f. Bahu ke belakang

g. Mata memandang orang-orang yang sedang dipimpin

h. Mimik muka dan arah mata juga harus dapat digunakan untuk memimpin, menolong dan memberi semangat kepada para penyanyi.

i. Lutut agak tegak tetapi tidak kaku, tidak pula lemah.

Peraturan dasar dalam memimpin.

1. Pada umumnya, tangan yang utama untuk memimpin nyanyi adalah tangan kanan. (seorang kidal boleh saja menggunakan tangan kirinya, kalau demikian maka bentuk gerakan tentu harus dibalik).

2. Keadaan tangan yang memimpin:

a. Lengan hendaknya dijulurkan dari bahu ke depan dalam keadaan leluasa, tangan diluruskan seperti pada waktu berjabat tangan.

b. Pergelangan tangan hendaknya dalam keadaan santai/kendur (relaxed).

3. Batas daerah gerakan tangan:

a. Batas gerakan ke atas sejajar dengan mata dan batas ke bawah sejajar               dengan siku. Batas gerakan ke kiri adalah sejajar dengan sisi badan          pemimpin dan batas gerakan ke kanan adalah kira-kira 30 cm ke kanan             mulai dari hidung.

b. Daerah gerakan ini dapat diperluas atau dipersempit seperlunya, sesuai dengan:

– Besar kecilnya jumlah orang yang dipimpin

– Untuk mengubah volume suara nyanyian. Biasanya gerakan tangan diperbesar untuk menunjukkan bahwa suara harus diperbesar, kalau gerakan diperkecil, volume suara harus diperkecil pula. Atau ketika menunjukkan tanda permata.

4. Sikap badan.

a. Berdiri tegak dengan keseimbangan berat badan bertumpu pada kedua               kaki.

b. Badan hendaknya merasa seimbang dan bebas

c. Kedua kaki agak renggang

d. Lengan hendaknya dapat bergerak dengan leluasa

e. kepala tegak tetapi tidak kaku

f. Bahu ke belakang

g. Mata memandang orang-orang yang sedang dipimpin

h. Mimik muka dan arah mata juga harus dapat digunakan untuk memimpin, menolong dan memberi semangat kepada para penyanyi.

  1. Lutut agak tegak tetapi tidak kaku, tidak pula lemah.

5.   Memimpin irama

1. Pemimpin harus ingat bahwa semua pukulan permulaan harus langsung digerakkan dengan tegas. Setiap bait harus dimulai dengan gerakan pukulan permulaan yang langsung dengan tegas.

2. Pukulan akhir sama pentingnya dengan pukulan permulaan. Pemimpin harus menjaga agar para penyanyi tidak menghentikan nyanyian sebelum tanda berhenti diberikan.

6.  Tangan kiri biasanya dipakai untuk menyatakan perasaan.

1. Dengan tangan kiri, pemimpin dapat menunjukkan volume (kerasnya suara), memberi isyarat kepada para penyanyi, menahan not, dll.

2. Tangan kiri sewaktu-waktu dapat pula digunakan bersama-sama dengan tangan kanan untuk memukul irama apabila memimpin suatu sidang yang besar. Ketika memukul irama, tangan kiri mengikuti gerak yang sama dengan tangan yang memimpim, hanya terbalik geraknya.

7.  Pemimpin hendaknya menjaga agar matanya selalu memandang kepada orang-

orang yang dipimpinnya, bukan pada bukunya.

1. Buku nyanyian sebaiknya ditaruh di atas mimbar.

2. Tidak baik jika seorang pemimpin memegang buku nyanyian dengan tangan

sebelah dan memimpin dengan tangan yang lainnya serta mencoba melihat

orang-orang yang dipimpinnya, sambil memperhatikan buku nyanyian.

8. Pukulan pendahuluan

1. Pada waktu mulai memimpin, pemimpin mengambil sikap badan seperti yang

sudah diterangkan, lalu mengangkat tangannya sampai setingggi dada. Sikap ini

membantunya untuk menarik perhatian penyanyi.

2. Kemudian ia mulai dengan memberi pukulan pendahuluan yang mendahului

pukulan pertama daripada nyanyian itu.

3. Pukulan pendahuluan ini akan menentukan cepat pelannya nyanyian yang akan

dinyanyikan. Juga pukulan itu akan merupakan tanda waktu bagi para penyanyi

untuk mengambil nafas sebelum bernyanyi.

4. Pukulan pendahuluan selalu mendahului nada pertama sebuah nyanyian.

5. Arah pukulan pendahuluan itu ditentukan oleh pukulan untuk nada pertama

nyanyian yang dinyanyikan.

6. Pukulan pendahuluan selalu diberikan dalam irama serta digabungkan dengan

pukulan pertama untuk menetapkan kecepatan, perasaan, gaya nyanyian yang

akan dinyanyikan

5.   Memimpin irama

1. Pemimpin harus ingat bahwa semua pukulan permulaan harus langsung digerakkan dengan tegas. Setiap bait harus dimulai dengan gerakan pukulan permulaan yang langsung dengan tegas.

2. Pukulan akhir sama pentingnya dengan pukulan permulaan. Pemimpin harus menjaga agar para penyanyi tidak menghentikan nyanyian sebelum tanda berhenti diberikan.

6.  Tangan kiri biasanya dipakai untuk menyatakan perasaan.

1. Dengan tangan kiri, pemimpin dapat menunjukkan volume (kerasnya suara), memberi isyarat kepada para penyanyi, menahan not, dll.

2. Tangan kiri sewaktu-waktu dapat pula digunakan bersama-sama dengan tangan kanan untuk memukul irama apabila memimpin suatu sidang yang besar. Ketika memukul irama, tangan kiri mengikuti gerak yang sama dengan tangan yang memimpim, hanya terbalik geraknya.

7.  Pemimpin hendaknya menjaga agar matanya selalu memandang kepada orang-

orang yang dipimpinnya, bukan pada bukunya.

1. Buku nyanyian sebaiknya ditaruh di atas mimbar.

2. Tidak baik jika seorang pemimpin memegang buku nyanyian dengan tangan

sebelah dan memimpin dengan tangan yang lainnya serta mencoba melihat

orang-orang yang dipimpinnya, sambil memperhatikan buku nyanyian.

8. Pukulan pendahuluan

1. Pada waktu mulai memimpin, pemimpin mengambil sikap badan seperti yang

sudah diterangkan, lalu mengangkat tangannya sampai setingggi dada. Sikap ini

membantunya untuk menarik perhatian penyanyi.

2. Kemudian ia mulai dengan memberi pukulan pendahuluan yang mendahului

pukulan pertama daripada nyanyian itu.

3. Pukulan pendahuluan ini akan menentukan cepat pelannya nyanyian yang akan

dinyanyikan. Juga pukulan itu akan merupakan tanda waktu bagi para penyanyi

untuk mengambil nafas sebelum bernyanyi.

4. Pukulan pendahuluan selalu mendahului nada pertama sebuah nyanyian.

5. Arah pukulan pendahuluan itu ditentukan oleh pukulan untuk nada pertama

nyanyian yang dinyanyikan.

6. Pukulan pendahuluan selalu diberikan dalam irama serta digabungkan dengan

pukulan pertama untuk menetapkan kecepatan, perasaan, gaya nyanyian yang

akan dinyanyikan

9. Gerakan tanda berhenti.

1. Gerakan tanda berhenti hendaknya singkat dan tajam.

2. Gerakan tanda berhenti disesuaikan dengan jiwa nyanyian yang dinyanyikan. Pada nyanyian yang berjiwa bersemangat hendaklah diberi gerakan tanda berhenti yang lebih tajam daripada nyanyian yang bersifat khidmat (doa).

D. Persoalan-Persoalan Yang Luar Biasa.

 

A. Pada waktu ada tanda permata (  .  ), pemimpin harus menggerakkan tangannya serta lengannya ke luar dan ke atas lalu menahan nada tersebut selama sekehendak hatinya dengan tidak memperhatikan arah pukulan.

a. Tanda permata diakhiri dengan gerakan pukulan tanda berhenti.

b. Secara tertulis, sebuah tanda permata di atas sebuah not berarti harga not tersebut menjadi dua kali ganda; secara praktis nada tersebut dapat ditahan menurut kehendak pemimpin.

B. Kadang-kadang ada lagu yang mempunyai dua macam tanda birama. Kalau menemukan lagu semacam ini pemimpin harus siap untuk mengubah bentuk pukulan iramanya di tengah-tengah nyanyian.

Penutup

           

Kalau seorang pemimpin musik dapat menguasai bermacam-macam cara memimpin dan kalu ia dapat menyerap musik itu lalu mengeluarkannya pula dengan melalui seluruh pribadinya serta gerak-geriknya, maka cara memimpinnya itu sendiri akan menjadi seperti musik pula. Nyanyian terdiri atas ucapan, kalimat dan paham. Nada, tanda berhenti, dan irama biasanya digunakan hanya dengan maksud untuk menyatakan hal-hal tersebut. Jadi seorang pemimpin akan berusaha sedapat mungkin merangkaikan nada tanda berhenti, dan irama sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang semula terkandung dalam nada, tanda berhenti, dan irama itu, dapat dinyatakan kembali dengan lengkap dan indah oleh pemimpin. Dengan rajin berlatih dan dengan cara berlatih yang benar, dapatlah seorang pemimpin berhasil dalam hal tersebut yang akhirnya semuanya itu dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus Juruselamat manusia.

Created by: TLR

9. Gerakan tanda berhenti.

1. Gerakan tanda berhenti hendaknya singkat dan tajam.

2. Gerakan tanda berhenti disesuaikan dengan jiwa nyanyian yang dinyanyikan. Pada nyanyian yang berjiwa bersemangat hendaklah diberi gerakan tanda berhenti yang lebih tajam daripada nyanyian yang bersifat khidmat (doa).

D. Persoalan-Persoalan Yang Luar Biasa.

 

A. Pada waktu ada tanda permata (  .  ), pemimpin harus menggerakkan tangannya serta lengannya ke luar dan ke atas lalu menahan nada tersebut selama sekehendak hatinya dengan tidak memperhatikan arah pukulan.

a. Tanda permata diakhiri dengan gerakan pukulan tanda berhenti.

b. Secara tertulis, sebuah tanda permata di atas sebuah not berarti harga not tersebut menjadi dua kali ganda; secara praktis nada tersebut dapat ditahan menurut kehendak pemimpin.

B. Kadang-kadang ada lagu yang mempunyai dua macam tanda birama. Kalau menemukan lagu semacam ini pemimpin harus siap untuk mengubah bentuk pukulan iramanya di tengah-tengah nyanyian.

Penutup

           

Kalau seorang pemimpin musik dapat menguasai bermacam-macam cara memimpin dan kalu ia dapat menyerap musik itu lalu mengeluarkannya pula dengan melalui seluruh pribadinya serta gerak-geriknya, maka cara memimpinnya itu sendiri akan menjadi seperti musik pula. Nyanyian terdiri atas ucapan, kalimat dan paham. Nada, tanda berhenti, dan irama biasanya digunakan hanya dengan maksud untuk menyatakan hal-hal tersebut. Jadi seorang pemimpin akan berusaha sedapat mungkin merangkaikan nada tanda berhenti, dan irama sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang semula terkandung dalam nada, tanda berhenti, dan irama itu, dapat dinyatakan kembali dengan lengkap dan indah oleh pemimpin. Dengan rajin berlatih dan dengan cara berlatih yang benar, dapatlah seorang pemimpin berhasil dalam hal tersebut yang akhirnya semuanya itu dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus Juruselamat manusia.

Created by: TLR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s